Rabu, 21 Oktober 2015

Mush'ab Bin Umair, Duta Islam Pertama Pilihan Rasul



Rasulullah SAW pernah membacakan surat Al Ahzab ayat 23 untuk seorang sahabat bernama Mush’ab bin Umair yang telah berjuang di jalan Allah (fisabilillah) yang berbunyi: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah....”. (QS Al Ahzab: 23)

Rasulullah SAW pun menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, dan pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda: “Dahulu saya lihat Mush'ab ini tidak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Mush'ab bin Umair atau “Mush'ab yang baik”, adalah salah seorang di antara para sahabat Nabi. Seorang remaja quraisy terkemuka, yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan. Ia juga seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum.

Lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya yang baik. Hidupnya serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan.

Namun, ketika Mush'ab memeluk Islam, maka tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, yaitu Khunas binti Malik. Tantangan dari ibunya bagi Mush'ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah SWT.

Karena itu, setelah mengetahui anaknya memeluk Islam, maka sang ibu pun memboikotnya, lalu dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya dengan sangat rapat.

Saat mendengar berita hijrah, Mush'ab pun mencari akal untuk meloloskan diri dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia tinggal disana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lalu pulang ke Mekah. Setelah itu ia pergi lagi hijrah untuk kedua kalinya bersama para shahabat atas perintah Rasulullah SAW dan karena taat kepada-Nya.

Hingga suatu saat, sang pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar. Tetapi kini jiwanya yang telah dihiasi dengan 'aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.

Mush'ab pun dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas mulia saat itu. Ia menjadi utusan atau duta Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai'at kepada Rasulullah di bukit 'Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.

Mush'ab pun memikul amanah itu dengan bekal karunia Allah SWT kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk ke dalam Islam.

Syahid di Medan Jihad

Berkata Ibnu Sa'ad: “Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-'Abdari dari bapaknya, ia berkata: Mush'ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush'ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu &umaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush'ab mengucapkan: Muhammad itu tiada lain hanyaIah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul': Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mushab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan: "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul': Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush'ab pun gugur, dan bendera jatuh"

Gugurlah Mush'ab dan jatuhlah bendera. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Wahai Mush'ab cukuplah bagimu Ar Rahman, namamu harum semerbak dalam kehidupan. Rasulullah SAW bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush'ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Maka sabda Rasulullah SAW: "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan dahinya tutupilah dengan rumput idzkhir!"

Kemudian Rasul SAW memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda: Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah. Setelah melayangkan pandang, Rasulullah SAW berkata: “Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah”.

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, sabdanya: “Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya”.

Salam atasmu wahai Mush'ab bin Umair. Duta Islam pertama yang sukses menjalankan perintah Nabi dengan penuh amanah dan tanggungjawab. Salam atasmu sekalian, para sahabat Nabi dan syuhada. Wallahua’lam. (FKA/berbagai sumber)



Faris Kasyfi Aziz

About Faris Kasyfi Aziz

FARIS KASYFI AZIZ | Mahasiswa FidKom - Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Semester 3 di UIN SGD Bandung | Tinggal di Jatiasih Kota Bekasi, Jawa Barat.

Subscribe to this Blog via Email :

1 komentar:

Write komentar