Senin, 23 Maret 2015

Film Malaikat Tanpa Sayap

Identitas Film

Judul : Malaikat Tanpa Sayap
Sutradara : Rako Prijanto
Produser : Chand Parwez Servia
Pemeran :
1. Surya Saputra sebagai Amir (Ayah Vino)
2. Kinaryosih sebagai Myra (Ibu Vino)
3. Adipati Dolken sebagai Vino
4. Maudy Ayunda sebagai Mura
5. Ikang Fawzi sebagai Papa Mura
6. Agus Kuncoro sebagai Calo
7. Geccha Qheagaveta sebagai Wina

Cerita film “Malaikat Tanpa Sayap” fokus pada karakter Vino (diperankan Adipati dolken). Vino, seorang remaja SMA yang memiliki hubungan kurang harmonis, begitu dekat dengan keluarga, terutama setelah ayahnya, Amir (diperankan Surya Saputra) pergi karena bangkrut ditipu oleh teman-teman bisnisnya.

Kepailitan sang ayah ini kemudian membuat keluarganya berantakan, setelah istrinya, Mirna (diperankan Kinaryosih) lebih memilih untuk meninggalkan suami dan kedua anaknya, Vino dan Winna (diperankan Geccha Qheagaveta) adiknya yang berusia lima tahun.

Latar belakang keluarga yang berantakan kemudian membuat Vino menjadi remaja yang skeptis dan lebih menyendiri dan menutup dia keluar dari kehidupan. Meski begitu, ketika Wina mengalami kecelakaan yang akan mengancam hidupnya jika tidak segera dioperasi, Vino masih memberikan perhatian yang besar terhadap saudaranya.

Bahkan, Vino pun rela menjual organ tubuhnya ke broker organ jantung (diperankan Agus Kuncoro) untuk membiayai pelaksanaan operasi Wina. Pada saat yang sama, Vino kemudian berkenalan dengan Mura (diperankan Maudy Ayunda), yang perlahan-lahan, mulai mengubah sikap Vino untuk seseorang yang lebih memperhatikan orang-orang yang berada di sekitar lingkungan.

Namun, secara sadar atau tidak sadar kemudian membuat Vino berubah pikiran tentang jantung donor, yang akhirnya membuat Vino dikejar oleh broker organ. Secara sekilas, film “Malaikat Tanpa Sayap” jelas akan dianggap sebagai salah satu film yang mengikuti tren menggunakan latar belakang asmara narasi kematian begitu banyak yang dieksploitasi oleh banyak pembuat film Indonesia.

Dan tidak bisa dipungkiri, film “Malaikat Tanpa Sayap” perlahan-lahan menggunakan tema-tema yang telah banyak digunakan dalam berbagai drama percintaan remaja Indonesia di cerita untuk membuat momen sentimental kepada penonton.

Untungnya sang sutradara, Rako Prijanto, berhasil menggambarkan film “Malaikat Tanpa Sayap” ini dengan alur cerita secara alami, tanpa pernah memaksa, sehingga penonton menangis ketika menonton cerita. Sehingga, film “Malaikat Tanpa Sayap” ini berhasil tampil lebih unggul dari film-film sejenis yang banyak diproduksi di Indonesia.

Sayangnya, tidak seluruh durasi “Malaikat Tanpa Sayap” berjalan lancar. Di beberapa bagian, film ini terkesan mencoba untuk membawa terlalu banyak karakter dan plot untuk terlibat dalam cerita.

Pertunjukan yang paling mengesankan dari film yang diperoleh dapat diberikan oleh Maudy Ayunda dan Surya Saputra, yang mampu mengubah karakternya dengan baik sambil memberikan sentuhan emosi seperti karakter yang mereka perankan benar-benar membutuhkannya.

Hal ini sangat sulit untuk bertahan hidup dan tidak jatuh cinta dengan film “Malaikat Tanpa Sayap”. Memang benar bahwa cerita itu tidak dihadirkannya struktural cerita baru yang spektakuler. Dan memang benar bahwa “Malaikat Tanpa Sayap” adalah sebuah film yang menggunakan saat-saat kematian untuk menyajikan kisah cinta yang menyentuh penonton.

Namun, sang sutradara mampu membawa momen ini adalah standar alami, tidak pernah memaksa penonton untuk merasa tersentuh oleh kisah-kisah yang dihadirkan dan hadir begitu ringan tapi masih mengandung dan emosional.

Selain itu, sang sutradara juga berhasil memanfaatkan keindahan lagu kepunyaan ‘Malaikat Juga Tahu’ oleh Dewi Lestari, sekaligus menempatkan lagu di saat-saat yang paling penting dalam plot film yang membuat film “Malaikat Tanpa Sayap” ini berhasil tampil begitu romantis, melankolis dan menyentuh tanpa pernah tampak terlalu mengada-ada.

Di sekitar kita banyak malaikat tak bersayap. Malaikat Tanpa Sayap tak jauh dari sekeliling kita. Merekalah para penolong yang dengan tulus membantu dan tulus mencinta. Mereka itu seolah malaikat yang turun ke dunia. Mereka ada di mana-mana, terkadang tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan. Bisa saja, kita berkesempatan untuk menjadi malaikat tanpa sayap bagi mereka yang membutuhkan.



Faris Kasyfi Aziz

About Faris Kasyfi Aziz

FARIS KASYFI AZIZ | Mahasiswa FidKom - Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Semester 3 di UIN SGD Bandung | Tinggal di Jatiasih Kota Bekasi, Jawa Barat.

Subscribe to this Blog via Email :

1 komentar:

Write komentar